Pages

Monday, February 15, 2016

Haramnya Pajak dalam Pandangan Islam



Sore ini saya menemukan sebuah broadcast menarik tentang hukum pajak. Setelah membaca tulisan di atas, sebenarnya ada beberapa poin yang ingin saya negasikan. Tapi, untuk mnegerucutkan, saya akan memfokuskan pembahasannya pada pajak saja. Hem, sebenarnya dari dulu sering sekali dengar koar-koar bahwa "pajak itu haraaam!", tetapi baru kali ini tersentil untuk mengaji. 

Supaya lurusm kita asumsikan saya menulis dalam pandangan orang Islam yang jelas-jelas mengharamkan pajak. Untuk itu, pertama-tama silakan baca terlebih dahulu kerangka pikir yang mengacu ke Yufid. Kedua, kita mulai bicara tentang pajak, yang seperti halnya uang kertas, berada di ranah syubhat. Ketiga, mari kita buka sedikit asumsi dasar tersebut dengan memasukkan posisi pajak yang diterapkan di Indonesia, sekaligus memasukkan instrumen-instrumen pungutan dalam syariah Islam yang telah dijabarkan dalam artikel di tautan tersebut.

Nah...

Secara pribadi, saya sama sekali tidak bermaksud untuk menegasikan keharaman pajak, karena itulah yang termaktub dalam kitab. Tapi, jika memang pajak dihapuskan, penerapannya di Indonesia punya sisi yang sangat mengganggu kemaslahatan ummat secara makro.

Ada beberapa argumen yang membuat larangan tersebut menjadi tidak mungkin untuk diterapkan di Indonesia:

  1. Salah satu fungsi pungutan adalah sebagai alat pemerataan pendapatan. Pemerataan kekayaan itu penting karena membuat ekonomi jadi efisien. Melalui pajak barang mewah, misalnya. Orang kaya raya di Jakarta diberi pajak yang tinggi untuk kemudian uangnya dikumpulkan mendanai APBN membangun sekolah di Papua dalam. Yang seperti ini namanya "al-jizyah" dalam Islam. Tapi sayangnya selama ini zakat tersebut dikelolah oleh BMT (bersamaan dengan "zakat mal dan jiwa") yang belum berkapasitas/berwenang untuk melakukan pembangunan nasional. Jadi, tujuan pemerataan bisa terhambat.
  2. Sementara itu, negeri kita bukan Arab yang selalu kebanyakan duit. Kalau bukan dari pajak, kita harus utang ke negara lain. Tapi, nggak bisa utang. Kan riba(?). Alternatif lain adalah hibah, tapi nggak mungkin juga kalau nggak ada boncengan politik.
  3. Hukum niaga syariah belum terap di negara kita. Misalnya pungutan "al-usyur" yaitu pungutan orang kafir yang mendiami sebuah negara. Indonesia yg negara Pancasila nggak mungkin menerapkan peraturan ini. Lainnya juga belum ada instrumen. 
  4. Selain dua pungutan di atas, dalam Islam dikenal "al-kharaj" yaitu pajak bumi. Sama, dalam pajak juga ada yang disebut PBB.
  5. Kalau bukan muslim yang bekerja di direktorat pajak (direktorat pajak juga bagian dari Kemenkeu alias pemerintah), nanti malah semua orang yang di pemerintahan kita itu kafir, dong? 

Tentu saja penjelasan di atas tidak menjadikan pajak itu halal, tetapi cukup jelas untuk menerangkan kondisi "keterdesakan pentingnya pajak" di Indonesia. Penghapusan pajak di Indonesia jika serta merta hanya karena "pajak itu haram" akan menghadirkan dualisme ekonomi yang berujung pada masalah-tidak-berujung.

Allahualambisshawab.

Sunday, February 14, 2016

Change my supervisor

Being the last year student is always such a drama. My current supervisor avoids me in the end due to her objection guiding me writing my thesis in English. Soooooooo, what did she think of me during all these past tiring months......

Sunday, July 5, 2015

Stagnancy

It's been 6 of July and I have not done any significant progress...
I was too busy with Twitter trolling and comunity-development project matters...

How often do I spend my day in library?
Twice a month on June.

Shame on me?
I knew...

But I won't let myself drown too deep into comfort zone.
I'm a determined procrastinator and an always-come-late optimist generation.
Huh? .... I cannot digest my sentences

I need a tempation bundling now.

Friday, May 8, 2015

English Vocabulary for International Trade

Prcatice: International Trade

Joining Academic English Class

Yaaaay! I'm just too lucky to be a student of FEB UNDIP!
One of student groups in my campus offers "Academic Class"

I wondered why this curriculum was not included in English subject in my sophomore. Academic English is essential for Economics and Development Studies studs as we deal with social dynamics from scientific point of view. Furthermore, most of our products are ideas, thought, policy reference, and management. How come I should take a separated class...

:'(

Hufff...

Okay... Well..

I came to my first class and stated my intention to write down my thesis in English. My deepest aspire is going further as I want to be the first in my department who is committed to help my faculty arranging standardization for final assignment project in English. 

I do really want to see some of my juniors refer to this blog in doing their skripsi. Hehe. 

Love and care from me! Please pray for my final round!

The course you might take if you want to master English for academic purposes


First Love

The first time falling in love with International Trade is when I was studying in Korea for exchange program. My lecturer, Badhassa Wolteji Chala from Ethiopia, successfully made International Trade Theory an easy subject to bump on!!!

Indonesia Students in International Trade
Kak Adrian (master stud), me, Sir Badhassa, Kak Isna, Kak Adis, and Kak Fandy (master stud)